ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA PADA PIDATO KEAGAMAAN DENGAN TEMA “SABAR”
Oleh: Wirda Sari. 5f(126210667)
Kesalahan berbahasa dianggap sebagai bagian dari proses belajar
mengajar, baik belajar formal maupun secara tidak formal. Pangkal penyebab
kesalahan berbahasa ada pada orang yang menggunakan bahasa yang bersangkutan
bukan pada bahasa yang digunakannya.
Orang yang melakukan kesalahan berbahasa tidak dengan sendirinya
berarti yang bersangkutan bersikap negatif. Sikap negatif terbentuk jika
seseorang tahu atau sudah diberitahu bahwa ia telah melakukan kesalahan, tetapi
enggan berusaha memperbaiki kesalahan tersebut. Orang yang kurang terampil
berbahasa dapat menunjukkan sikap positif jika ia belajar dari kesalahan,
memperhatikan saran, petunjuk, atau pendapat orang yang ahli, serta
mengupayakan perbaikan pemakaian bahasanya.
Pada kesempatan ini saya akan menganalisis kesalahan berbahasa pada
pidato keagamaan, orang yang hendak berpidato berarti hendaknya menggunakan
bahasa yang benar, tidak hanya tata kalimat yang harus diperhatikan, namun
bentuk kata juga harus diperhatikan dengan baik. Pada pidato keagamaan pada
tanggal 3 november 2014 yang berjudul “Sabar”, saya menemukan kesalahan
berbahasa dari berbagai tataran, yaitu:
1.
Kesalahan
berbahasa tataran sintaksis
A.
Kalimat yang
tidak logis
Bentuk
tidak baku
a.
Pertama kali,
marilah kita memanjatkan puji syukur yang tidak terhingga kepada Allah SWT.
Bentuk
baku
a.
Pertama-tama
marilah kita ucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT.
B.
Adanya pengaruh
bahasa daerah
Bentuk
tidak baku
a.
Tanpa ijin dari
Allah tak mungkin kita bisa hadir dan bermuwajjadah di temapat ini.
Bentuk
baku
a.
Tanpa izin dari
Allah SWT tidak mungkin kita bisa hadir bermuwajjadah di tempat ini.
C.
Penjamakan yang
ganda
Bentuk
tidak baku
a.
Para
ulama-ulama dan segenap pengikutnya.
b.
Para
bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara sekalian.
Bentuk
baku
a.
Para ulama dan
segenap pengikutnya.
b.
Para bapak, ibu
dan saudara sekalian.
2.
Kesalahan
berbahasa tataran wacana
A.
Kesalahan dalam
koherensi
Bentuk
tidak baku
a.
Oleh karena
itu, seseorang yang tetap tegak bertahan, sehingga dapat menundukkan dorongan
hawa nafsu secara terus menerus, maka ia termasuk orang yang sabar.
b.
Terhadap ujian
itu, baik yang mengandung kenikmatan atau musibah, maka sifat sabar adalah
sesuatu yang dapat mejadi penawar.
c.
Jika ada
kesalahan maka hal itu karena khilaf dan kebodohan ilmu saya, mohon maaf atas
segala kekurangannya.
Bentuk
baku
a.
Oleh karena
itu, seseorang harus tetap tegak bertahan untuk mengalahkan hawa nafsunya
sendiri, orang-orang seperti itulah yang tergolong ke dalam orang-orang yang
sabar.
b.
Dalam
menghadapi ujian tersebut, baik yang yang mengandung kenikmatan maupun musibah,
sifat sabar itulah yang dapat menjadi
penawarnya.
c.
Jika ada salah
dan khilaf, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, yang benar itu datangnya
dari Allah dan yang salah itu datangnya dari diri kita sendiri.
3.
Penggunaan
Konjungsi yang Berlebihan
Bentuk
tidak baku
a.
Untuk mengukur
sejauh mana kadar keimanan dan kesabaran seseorang, maka Allah lalu melimpahkan
suatu ujian.
Bentuk
baku
a.
Untuk mengukur
sejauh mana kadar keimanan dan kesabaran seseorang, maka Allah akan mengujinya
dengan suatu ujian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar