Senin, 10 November 2014

ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA PADA PIDATO KEAGAMAAN



ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA PADA PIDATO KEAGAMAAN DENGAN TEMA “SABAR”
Oleh: Wirda Sari. 5f(126210667)
Kesalahan berbahasa dianggap sebagai bagian dari proses belajar mengajar, baik belajar formal maupun secara tidak formal. Pangkal penyebab kesalahan berbahasa ada pada orang yang menggunakan bahasa yang bersangkutan bukan pada bahasa yang digunakannya.
Orang yang melakukan kesalahan berbahasa tidak dengan sendirinya berarti yang bersangkutan bersikap negatif. Sikap negatif terbentuk jika seseorang tahu atau sudah diberitahu bahwa ia telah melakukan kesalahan, tetapi enggan berusaha memperbaiki kesalahan tersebut. Orang yang kurang terampil berbahasa dapat menunjukkan sikap positif jika ia belajar dari kesalahan, memperhatikan saran, petunjuk, atau pendapat orang yang ahli, serta mengupayakan perbaikan pemakaian bahasanya.
Pada kesempatan ini saya akan menganalisis kesalahan berbahasa pada pidato keagamaan, orang yang hendak berpidato berarti hendaknya menggunakan bahasa yang benar, tidak hanya tata kalimat yang harus diperhatikan, namun bentuk kata juga harus diperhatikan dengan baik. Pada pidato keagamaan pada tanggal 3 november 2014 yang berjudul “Sabar”, saya menemukan kesalahan berbahasa dari berbagai tataran, yaitu:
1.      Kesalahan berbahasa tataran sintaksis
A.    Kalimat yang tidak logis

Bentuk tidak baku
a.       Pertama kali, marilah kita memanjatkan puji syukur yang tidak terhingga kepada Allah SWT.

Bentuk baku
a.       Pertama-tama marilah kita ucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT.

B.     Adanya pengaruh bahasa daerah
Bentuk tidak baku
a.       Tanpa ijin dari Allah tak mungkin kita bisa hadir dan bermuwajjadah di temapat ini.

Bentuk baku
a.       Tanpa izin dari Allah SWT tidak mungkin kita bisa hadir bermuwajjadah di tempat ini.

C.    Penjamakan yang ganda
Bentuk tidak baku
a.       Para ulama-ulama dan segenap pengikutnya.
b.      Para bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara sekalian.

Bentuk baku
a.       Para ulama dan segenap pengikutnya.
b.      Para bapak, ibu dan saudara sekalian.

2.      Kesalahan berbahasa tataran wacana
A.    Kesalahan dalam koherensi

Bentuk tidak baku
a.       Oleh karena itu, seseorang yang tetap tegak bertahan, sehingga dapat menundukkan dorongan hawa nafsu secara terus menerus, maka ia termasuk orang yang sabar.
b.      Terhadap ujian itu, baik yang mengandung kenikmatan atau musibah, maka sifat sabar adalah sesuatu yang dapat mejadi penawar.
c.       Jika ada kesalahan maka hal itu karena khilaf dan kebodohan ilmu saya, mohon maaf atas segala kekurangannya.

Bentuk baku
a.       Oleh karena itu, seseorang harus tetap tegak bertahan untuk mengalahkan hawa nafsunya sendiri, orang-orang seperti itulah yang tergolong ke dalam orang-orang yang sabar.
b.      Dalam menghadapi ujian tersebut, baik yang yang mengandung kenikmatan maupun musibah, sifat sabar  itulah yang dapat menjadi penawarnya.
c.       Jika ada salah dan khilaf, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, yang benar itu datangnya dari Allah dan yang salah itu datangnya dari diri kita sendiri.

3.      Penggunaan Konjungsi yang Berlebihan
Bentuk tidak baku
a.       Untuk mengukur sejauh mana kadar keimanan dan kesabaran seseorang, maka Allah lalu melimpahkan suatu ujian.

Bentuk baku
a.       Untuk mengukur sejauh mana kadar keimanan dan kesabaran seseorang, maka Allah akan mengujinya dengan suatu ujian.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar